Kalimat efektif adalah kalimat yang mewakili gagasan penulis, baik lisan maupun tulisan, serta dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca atau pendengar.

Dari pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa suatu kalimat efektif harus memenuhi syarat-syarat berikut :

  1. Dapat mewakili gagasan penulis, baik lisan maupun tulisan.
  2. Dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya antara penulis dan pikiran pembaca atau pendengarnya.

Ciri-ciri kalimat efektif :

1. Koherensi (Kepaduan)

Adanya kepaduan dalam kalimat, sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan kepaduan pada suatu kalimat :

a. Dapat mencerminkan cara berpikir yang simetris dan tidak bertele-tele dalam penyampaiannya.

b. Menggunakan pola aspek+agen+verbal secara tertib dalam kalimat yang berpredikat pasif persona.

c. Tidak menyisipkan kata, seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dengan objek penderita.

2. Keparalelan

Penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama dalam kalimat. Misalnya, jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya juga harus menggunakan kata kerja berimbuhan me-.

Contoh :

Kakak mengambil uang untuk dibayar buku itu. [salah]

→ Kakak mengambil uang untuk membayar buku itu. [benar]

3. Kehematan

Tidak terjadi pemborosan atau pengulangan kata dalam kalimat. Lebih jelasnya yaitu hemat dalam menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Penggunaan kata yang berlebih dapat mengaburkan maksud kalimat sehingga dapat menyebabkan kesalah-pahaman.

Beberapa kriteria dalam melakukan penghematan kata :

a. Menghindari kesinoniman dalam kalimat yang sama.

b. Menghilangkan pengulangan subyek. Gunakan kata ganti subyek.

c. Tidak menjamakkan kata-kata yang sudah jamak.

d. Menghindari pemakaian superordinat pada hiponimi kata.

Contoh :

a. Beberapa karya-karya ilmiah menjadi referensiku dalam penelitian ini. [salah]

→ Beberapa karya ilmiah menjadi referensiku dalam penelitian ini. [benar]

b. Temannya memakai kaos warna merah. [salah]

→ Temannya memakai kaos merah. [benar]

4. Penekanan

Perlakuan lebih terhadap ide pokok kalimat. Ada beberapa cara penekanan, yaitu :

a. Meletakkan kata yang ditekankan di awal kalimat.

b. Membuat urutan kata yang bertahap.

c. Melakukan pengulangan kata.

d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditekankan.

e. Menggunakan partikel penekanan atau penegasan, seperti -lah, -pun, -kah.

5. Kevariasian

Variasi kalimat diketahui ketika ada dua atau lebih kalimat dibandingkan satu sama lainnya. Beberapa variasi kalimat :

a. Variasi dalam pembukaan kalimat.

Sebuah kalimat dimulai dengan :

– Frase benda.

– Frase keterangan (waktu, tempat, cara).

– Frase kerja.

– Partikel penghubung.

b. Variasi dalam pola kalimat.

Untuk efektifitas kalimat dan menghindari suasana monoton yang dapat menimbulkan kebosanan, pola kalimat Subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi Predikat – Objek – Subjek, atau yang lainnya.

Contoh :

Penyanyi baru itu belum dikenal masyarakat. [S-P-O]

Belum dikenal masyarakat penyanyi baru itu. [P-O-S]

Masyarakat belum mengenal penyanyi baru itu. [O-P-S]

c. Variasi jenis kalimat.

Untuk mencapai efektifitas sebuah kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat tanya atau kalimat perintah.

 

Referensi :