Setelah minggu lalu membahas penalaran induktif, sekarang mari membahas penalaran deduktif.

Penalaran deduktif adalah proses menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari hal-hal umum. Dapat dikatakan penalaran deduktif merupakan kebalikan dari penalaran induktif.

Ada dua bentuk penalaran deduktif, yaitu :

1. Silogisme

=> Proses penalaran dimana dari dua premis yang ada ditarik satu kesimpulan.

=> Contoh :

P1 = Siapapun yang absen tanpa ijin akan mendapat hukuman.

P2 = Kyu absen tanpa ijin.

K = Kyu akan mendapat hukuman.

=> Secara singkat, silogisme dapat ditulis :

Jika A=B dan B=C maka A=C

=> Silogisme terdiri dari :

a. Silogime Kategorial

=> Disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

=> Kaidah Silogisme Kategorial :

  1. Sebuah silogisme harus terdiri dari tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan konklusi.
  2. Dalam ketiga proposisi itu harus ada tiga term, yaitu term mayor (term predikat dari konklusi), term minor (term subyek dari konklusi), dan term tengah (menghubungkan premis mayor dan premis minor).
  3. Setiap term yang terdapat dalam kesimpulan harus tersebar atau sudah tersebut dalam premis-premisnya.
  4. Bila salah satu premis bersifat universal dan yang lain bersifat partikular, maka konklusinya harus bersifat partikular.
  5. Dari dua premis yang bersifat universal, konklusi yang diturunkan juga harus bersifat universal.
  6. Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis yang negatif, maka konklusinya harus negatif.
  7. Dari dua premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan. Sebab itu silogisme berikut tidak sahih dan tidak logis.
  8. Dari dua premis yang bersifat partikular, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.

=> Contoh :

P1 = Mereka yang menyukai Super Junior termasuk ELF.

P2 = Ezie menyukai Super Junior.

K = Sebab itu, Ezie termasuk ELF.

b. Silogisme Hipotesis

=> Pola penalaran deduktif dimana premis mayornya mengandung hipotesis.

=> Ada 4 tipe silogisme hipotesis :

1. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian anteseden.

P1 = Jika punya tiket, saya akan menonton Super Show 3.

P2 = Saya punya tiket.

K = Jadi saya menonton Super Show 3.

2. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuen.

P1 = Jika sudah matang, daging akan berubah warna.

P2 = Sekarang daging sudah berubah warna.

K = Jadi daging sudah matang.

3. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari bagian anteseden.

P1 = Jika sedang senggang, maka Wookie akan menonton drama.

P2 = Wookie tidak sedang senggang.

K = Jadi Wookie tidak menonton drama.

4. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari bagian konsekuen.

P1 = Bila hujan deras, saya tidak pergi.

P2 = Saya pergi.

K = Jadi hujan tidak deras.

c. Silogisme Alternatif / Disyungtif

=> Silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya kategorial yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.

=> Terdiri dari 2 macam :

1. Dalam arti sempit

=> Premis mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.

P1 = Yesung datang atau tidak datang.

P2 = Ternyata Yesung datang.

K = Jadi, Yesung bukan tidak datang.

2. Dalam arti luas

=> Premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.

P1 = Hangeng di rumah atau di studio.

P2 = Ternyata tidak di studio.

K = Jadi di rumah.

=> Baik dalam arti sempit maupun luas, silogisme ini mempunyai 2 tipe.

a. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain.

P1 = Hangeng di rumah atau di studio.

P2 = Ternyata tidak di studio.

K = Jadi di rumah.

b. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.

P1 = Hangeng di rumah atau di studio.

P2 = Ternyata di studio.

K = Jadi Hangeng tidak di rumah.

=> Hukum Silogisme Disyungtif

1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.

P1 = Kibum berkaos hitam atau tidak hitam.

P2 = Ternyata ia berkaos hitam.

K = Jadi Kibum tidak berkaos tidak hitam.

2. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:

a. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar).

P1 = Leeteuk menjadi MC atau atlit.

P2 = Ia adalah MC.

K = Jadi bukan atlit.

b. Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya tidak sah (salah).

P1 = Donghae pulang ke Seoul atau Mokpo.

P2 = Ia tidak pulang ke Seoul.

K = Jadi Donghae pulang ke Mokpo. (Bisa jadi ia pulang ke kota lain.)

2. Entimem

=>Enthymeme, enthymema (Yunani) berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’.

=> Dapat dikatakan bahwa entimem adalah penalaran deduksi tidak langsung.

=> Merupakan silogisme yang diperpendek, sebab salah satu premis dihilangkan karena sudah sama-sama diketahui.

=> Contoh :

Bentuk silogisme

P1 = Mereka yang sudah memenuhi syarat bisa naik tingkat.

P2 = Kangin sudah memenuhi syarat.

K  = Kangin bisa naik tingkat.

Bentuk entimem

a. Dengan menghilangkan P1

=> Kangin sudah memenuhi syarat, jadi ia bisa naik tingkat.

b. Dengan menghilangkan P2

=> Mereka yang sudah memenuhi syarat bisa naik tingkat; karena itu Kangin bisa naik tingkat.

Sumber :
http://aristobe74.blogspot.com/2010/02/silogisme-kategorial.html
ati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/18040/Deduksi.ppt
http://andriksupriadi.wordpress.com/2010/04/01/pengertian-silogisme/
http://andriksupriadi.wordpress.com/2010/04/01/pengertian-entimem/